Dalam
bahasa arab, Asuransi dikenal dengan istilah at-ta‟min, penanggung
disebut mu’ammim, tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min.
At-ta‟min di ambil dari amana
yang artinya memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa
takut, sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
“Yang
telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan
mereka dari rasa ketakutan”. (QS. Quraisy: 4)
Dari
arti terakhir surat tersebut, dianggap paling tepat untuk mendefinisikan
istilah at-ta’min, yaitu, men-ta’min-kan sesuatu, artinya adalah
seseorang membayar/ menyerahkan uang cicilan untuk agar ia atau ahli warisnya
mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk
mendapatkan ganti terhadap hartanya yang hilang.
Hadist
yang mendasari prinsip saling menanggung, saling melindungi, dan saling
menolong antar-Muslim di antaranya adalah sebagai berikut:
Dari
an-Nu‟man bin Basyir ra bahwasanya Rasulullah bersabda: “Perumpamaan
persaudaraan kaum Muslim dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah
seumpama satu tubuh. Bilamana salah satu bagian tubuh merasakan sakit, akan
dirasakan oleh bagian tubuh yang lainnya, seperti ketika tidak bisa tidur atau
ketika demam.” (HR Muslim)
Berdasarkan
prinsip tersebut, Dewan Syariah Nasional MUI kemudian menetapkan pengertian
asuransi syariah adalah Asuransi syariah (ta’min, takaful, atau tadhamun)
adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/
pihak melalui dana investasi dalam bentuk aset atau tabarru‟ yang memberikan
pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan)
yang sesuai dengan syariah.
Yang
dimaksud sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (ketidakpastian),
maisir (perjudian), riba (bunga), zhulum (penganiyaan), risywah
(suap), barang haram, dan perbuatan maksiat. Demikian tampak sekali hakikat asuransi
syariah yang berlandaskan prinsip persaudaraan tanpa bermaksud merugikan salah
satu pihak lewat jalan yang tidak halal.
Ahli
fikih kontemporer, Wahab az-Zuhaili mendefinisikan asuransi berdasarkan
pembagiannya. Ia membagi asuransi dalam dua bentuk, yaitu at-ta‟min
at-ta‟awuni dan at-ta‟min bi qist sabit. At-ta‟min at-ta‟awuni atau
asuransi tolong menolong adalah “kesepakatan sejumlah orang untuk membayar
sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah seorang di antara mereka mendapat
kemudaratan.” At-ta‟min bi qist sabit atau asuransi dengan pembagian
tetap adalah “ akad yang mewajibkan seseorang membayar sejumlah uang kepada
pihak asuransi yang terdiri atas beberapa pemegang saham dengan perjanjian
apabila peserta asuransi mendapatkan kecelakaan, ia diberi ganti rugi.
Jadi
asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi
ketentuan syariah, tolong-menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan
operator. Syariah berasal dari
ketentuan-ketentuan di dalam Al-Qur‟an (firman Allah yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW) dan As-Sunnah (teladan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW).
Referensi:
Didin Hafidhuddin,
et al. Solusi Berasuransi, Bandung, PT Karya Kita, 2009,
Muhaimin Iqbal, Asuransi
Umum Syariah Dalam Praktik (Upaya Menghilangkan Gharar, Maisir, dan Riba), Jakarta, Gema Insani, 2005,
Muhammad Syakir
Sula, Asuransi Syariah (Life and General) Konsep dan sistem Operasional,
Jakarta, Gema insani Press, 2004,
Wirdyaningsih, Bank
dan asuransi Islam di Indonesia, jakarta, Kencana, 2005,
loading...
0 komentar:
Post a Comment